LOGIKA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam
bahasa sehari-hari kita sering mendengar ungkapan seperti : alasannya tidak
logis, argumentasinya logis, kabar itu tidak logis. Yang dimaksud dengan logis
adalah masuk akal dan tidak logis adalah sebaliknya. Ilmu kita pelajari karena
manfaat yang hendak kita ambil, lalu apakah manfaat yang didapat dengan
mempelajari logika? Bahwa keseluruhan informasi keilmuan merupakan suatu sistem
yang bersifat logis, karena itu science tidak mungkin melepaskan kepentingannya
terhadap logika.
Sebagai suatu ilmu yang
mempelajari metode dan hukum-hukum yang digunakan untuk membedakan penalaran
yang betul dari penalaran yang salah, logika lahir dari pemikir-pemikir Yunani
yaitu Aristoteles, Theoprostus dan Kaum Stoa. Dalam perkembangannya, logika
telah menarik minat dan dipelajari secara luas oleh para filosof. Logika juga
menarik minat filosof-filosof muslim sehingga menjadi pembahasan yang menarik
dalam masalah agama.
Logika tidak mempelajari cara
berpikir dari semua ragamnya, tetapi pemikiran dalam bentuk yang paling sehat
dan praktis. Logika menyelidiki, menyaring dan menilai pemikiran dengan cara
serius dan terpelajar serta bertujuan mendapatkan kebenaran, terlepas dari
segala kepentingan dan keinginan perorangan. Logika merumuskan serta menerapkan
hukum-hukum dan patokan-patokan yang harus ditaati agar manusia dapat berpikir
benar, efisien dan teratur.
Banyak permasalah dihadapan
kita yang dapat kita cari solusinya dengan cara menggunakan logika. Tetapi
tidak semua masalah dapat kita selesaikan dengan menggunakan logika. Apaka sah
jika semua permasalahan dalam hidup ini kita selesaikan dengan menggunakan logika?
Dengan demikian kami mengangkat logika sebagai bahan bahasan dalam makalah ini.
Dengan harapan mampu menjadi bahan bacaan yang menarik dan mengandung daya
positif.
B.
Pembatasan
Masalah
Agar lebih fokus dan lebih
efesien dalam pembahasan ini maka saya membatasi permasalahan ini menjadi
bebrapa sub pokok pembahasan yang meliputi: Pengertian Logika Dalam
Kehidupan Sehari-hari, Sejarah Logika, Macam – Macam Logika , Logika Sebagai
Cabang Filsafat, Kegunaan Logika,Dasar-dasar Logika, Logika sebagai Esensi dari
Filsafat, Kritik-kritik terhadap Teori Atomisme Logis.
C.
Rumusan
Masalah
Logika adalah salah salah satu
cabang filsafat yang mampu membantu manusia dalam memecahkan masalahnya.
Pembahasan filsafat amat luas dan kompleks sehingga menimbulkan beberapa
pertanyaan sebagai berikut :
1. Apakah arti dari logika sebagai salah satu cabang dalam filsafat?
2. Bagaimana sejarah terlahirnya logika dalam filsafat?
3. Apa macam-macam dari logika?
4. Apakah fungsi logika dalam filsafat ilmu?
5. Apakah kegunaan logika dalam kehidupan sehari-hari?
1. Apakah arti dari logika sebagai salah satu cabang dalam filsafat?
2. Bagaimana sejarah terlahirnya logika dalam filsafat?
3. Apa macam-macam dari logika?
4. Apakah fungsi logika dalam filsafat ilmu?
5. Apakah kegunaan logika dalam kehidupan sehari-hari?
D.
Tujuan
Dalam pengembangan dan
penggunaannya, bahwa belajar tentang ilmu logika sangat penting. berarti bahwa
setiap manusia itu harus bisa berfikir dengan tepat dan masuk akal. Tujuan dari
mempelajari ilmu logika sendiri adalah :
1.
Tujuan Khusus
saya menyusun tugas makalah berjudul “Logika” dengan tujuan mendapatkan nilai dalam mata kuliah Logika khususnya dan menjadi bahan bacaan bagi mahasiswa IAIC.
saya menyusun tugas makalah berjudul “Logika” dengan tujuan mendapatkan nilai dalam mata kuliah Logika khususnya dan menjadi bahan bacaan bagi mahasiswa IAIC.
2. Tujuan Umum
a. Dengan mengetahui arti
dari logika sehingga penyusun bisa memahami apa itu logika.
b. Dengan mengetahui sejarah lahirnya logika, penyusun bisa mendapatkan gambaran perkembangan logika dari awal lahirnya sampai saat ini.
c. Dengan mengetahui macam-macam logika, penyusun dapat memahami logika secara utuh.
d. Dengan mengetahui fungsi logika, penyusun bisa memahami fungsi logika.
e. Dengan mengetahui kegunaan logika dalam kehidupan sehari-hari penyusun mampu menggunakan daya analisis untuk mengambil keputusan.
b. Dengan mengetahui sejarah lahirnya logika, penyusun bisa mendapatkan gambaran perkembangan logika dari awal lahirnya sampai saat ini.
c. Dengan mengetahui macam-macam logika, penyusun dapat memahami logika secara utuh.
d. Dengan mengetahui fungsi logika, penyusun bisa memahami fungsi logika.
e. Dengan mengetahui kegunaan logika dalam kehidupan sehari-hari penyusun mampu menggunakan daya analisis untuk mengambil keputusan.
E.
Metodologi Penulisan
Dalam pembahasan logika ini saya menggunakan metode analisis deskriftif dari sumber-sumber yang kami peroleh dan menyimak pengampu Logika dikampus.
Dalam pembahasan logika ini saya menggunakan metode analisis deskriftif dari sumber-sumber yang kami peroleh dan menyimak pengampu Logika dikampus.
F.
Sistematika Penulisan
Makalah ini di buat 3 bab yang masing-masing bab di lengkapi sub-sub bab dengan sistemaitka sebagai berikut:
Bab I : Pendahuluan yang menguraikan latar belakang masalah, perusmusan masalahan, pembatasan masalah, tujuan penulisan, metode penulisan, dan sistematika penulisan.
Bab II : Pembahsan yang menguraikan tentang Pengertian Logika Dalam Kehidupan Sehari-hari,Sejarah Logika,Macam – Macam Logika ,Logika Sebagai Cabang Filsafat,Kegunaan Logika,Dasar-dasar Logika,Logika sebagai Esensi dari Filsafat ,Kritik-kritik terhadap Teori Atomisme Logis
Bab III : Penutup yang menguraikan tentang kesimpulan dan
saran- saran
Makalah ini di buat 3 bab yang masing-masing bab di lengkapi sub-sub bab dengan sistemaitka sebagai berikut:
Bab I : Pendahuluan yang menguraikan latar belakang masalah, perusmusan masalahan, pembatasan masalah, tujuan penulisan, metode penulisan, dan sistematika penulisan.
Bab II : Pembahsan yang menguraikan tentang Pengertian Logika Dalam Kehidupan Sehari-hari,Sejarah Logika,Macam – Macam Logika ,Logika Sebagai Cabang Filsafat,Kegunaan Logika,Dasar-dasar Logika,Logika sebagai Esensi dari Filsafat ,Kritik-kritik terhadap Teori Atomisme Logis
Bab III : Penutup yang menguraikan tentang kesimpulan dan
saran- saran
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Logika Dalam Kehidupan
Sehari-hari
Logika berasal dari kata Yunani Kuno yaitu (Logos) yang artinya hasil pertimbangan akal pikiran yana diutarakan lewat kata dan dinyatakan dalam bahasa. Secara singkat, logika berarti ilmu, kecakapan atau alat untuk berpikir lurus. Sebagai ilmu, logika disebut sebagai logika Epiteme (Latin: logika scientia) yaitu logika adalah sepenuhnya suatu jenis pengetahuan rasional atau ilmu logika (ilmu pengetahuan) yang mempelajari kecakapan untuk berpikir lurus, tepat dan teratur Ilmu disini mengacu pada kecakapan rasional untuk mengetahui dan kecakapan mengacu pada kesanggupan akal budi untuk mewujudkan pengetahuan kedalam tindakan.
Logika berasal dari kata Yunani Kuno yaitu (Logos) yang artinya hasil pertimbangan akal pikiran yana diutarakan lewat kata dan dinyatakan dalam bahasa. Secara singkat, logika berarti ilmu, kecakapan atau alat untuk berpikir lurus. Sebagai ilmu, logika disebut sebagai logika Epiteme (Latin: logika scientia) yaitu logika adalah sepenuhnya suatu jenis pengetahuan rasional atau ilmu logika (ilmu pengetahuan) yang mempelajari kecakapan untuk berpikir lurus, tepat dan teratur Ilmu disini mengacu pada kecakapan rasional untuk mengetahui dan kecakapan mengacu pada kesanggupan akal budi untuk mewujudkan pengetahuan kedalam tindakan.
Kata logis yang dipergunakan
tersebut bisa juga diartikan dengan masuk akal. Oleh karena itu logika terkait
erat dengan hal-hal seperti pengertian, putusan, penyimpulan, silogisme. Logika
sebagai ilmu pengetahuan dimana obyek materialnya adalah berpikir (khususnya
penalaran/proses penalaran) dan obyek formal logika adalah berpikir/penalaran
yang ditinjau dari segi ketepatannya. Penalaran adalah proses pemikiran manusia
yang berusaha tiba pada pernyataan baru yang merupakan kelanjutan runtut dari
pernyataan lain yang telah diketahui (Premis) yang nanti akan diturunkan
kesimpulan.
Logika juga merupakan suatu
ketrampilan untuk menerapkan hukum-hukum pemikiran dalam praktek, hal ini yang
menyebabkan logika disebut dengan filsafat yang praktis. Dalam proses
pemikiran, terjadi pertimbamgan, menguraikan, membandingkan dan menghubungkan
pengertian yang satu dengan yang lain. Penyelidikan logika tidak dilakukan
dengan sembarang berpikir. Logika berpikir dipandang dari sudut kelurusan atau
ketepatannya. Suatu pemikiran logika akan disebut lurus apabila pemikiran itu
sesuai dengan hukum-hukum serta aturan yang sudah ditetapkan dalam logika. Dari
semua hal yang telah dijelaskan tersebut dapat menunjukkan bahwa logika
merupakan suatu pedoman atau pegangan untuk berpikir.
B. Sejarah Logika
Logika
dimulai sejak Thales (624 SM – 548 SM), filusuf Yunani pertama yang
meninggalkan segala dongeng, takhayul, dan cerita-cerita isapan jempol dan
berpaling kepada akal budi untuk memecahkan rahasia alam semesta. Thales
mengatakan bahwa air adalah arkhe (Yunani) yang berarti prinsip atau asas utama
alam semesta. Saat itu Thales telah mengenalkan logika induktif.
Aristoteles kemudian
mengenalkan logika sebagai ilmu, yang kemudian disebut logica scientica.
Aristoteles mengatakan bahwa Thales menarik kesimpulan bahwa air adalah arkhe
alam semesta dengan alasan bahwa air adalah jiwa segala sesuatu. Sejak saat
Thales sang filsuf mengenalkan pernyataannya, logika telah mulai dikembangkan.
Kaum Sofis beserta Plato (427 SM-347 SM) juga telah merintis dan memberikan
saran-saran dalam bidang ini.
Pada masa Aristoteles logika
masih disebut dengan analitica , yang secara khusus meneliti berbagai
argumentasi yang berangkat dari proposisi yang benar, dan dialektika yang
secara khusus meneliti argumentasi yang berangkat dari proposisi yang masih
diragukan kebenarannya. Inti dari logika Aristoteles adalah silogisme. Pada 370
SM – 288 SM Theophrastus, murid Aristoteles yang menjadi pemimpin Lyceum,
melanjutkan pengembangn logika. Istilah logika untuk pertama kalinya dikenalkan
oleh Zeno dari Citium 334 SM – 226 SM pelopor Kaum Stoa. Sistematisasi logika
terjadi pada masa Galenus (130 M – 201 M) dan Sextus Empiricus 200 M, dua orang
dokter medis yang mengembangkan logika dengan menerapkan metode geometri.
Kaum Sofis, Socrates, dan
Plato tercatat sebagai tokoh-tokoh yang ikut merintis lahirnya logika. Logika
lahir sebagai ilmu atas jasa Aristoteles, Theoprostus dan Kaum Stoa. Logika dikembangkan
secara progresif oleh bangsa Arab dan kaum muslimin pada abad II Hijriyah.
Logika menjadi bagian yang menarik perhatian dalam perkembangan kebudayaan
Islam. Namun juga mendapat reaksi yang berbeda-beda, sebagai contoh Ibnu Salah
dan Imam Nawawi menghukumi haram mempelajari logika, Al-Ghazali menganjurkan
dan menganggap baik, sedangkan Jumhur Ulama membolehkan bagi orang-orang yang
cukup akalnya dan kokoh imannya. Filosof Al-Kindi mempelajari dan menyelidiki
logika Yunani secara khusus dan studi ini dilakukan lebih mendalam oleh
Al-Farabi.
Selanjutnya logika mengalami
masa dekadensi yang panjang. Logika menjadi sangat dangkal dan sederhana
sekali. Pada masa itu digunakan buku-buku logika seperti Isagoge dari
Porphirius, Fonts Scientie dari John Damascenus, buku-buku komentar logika dari
Bothius, dan sistematika logika dari Thomas Aquinas. Semua berangkat dan
mengembangkan logika Aristoteles.
Pada abad XIII sampai dengan
abad XV muncul Petrus Hispanus, Roger Bacon, Raymundus Lullus, Wilhelm Ocham
menyusun logika yang sangat berbeda dengan logika Aristoteles yang kemudian
kita kenal sebagai logika modern. Raymundus Lullus mengembangkan metoda Ars
Magna, semacam aljabar pengertian dengan maksud membuktikan kebenaran –
kebenaran tertinggi. Francis Bacon mengembangkan metoda induktif dalam bukunya
Novum Organum Scientiarum . W.Leibniz menyusun logika aljabar untuk
menyederhanakan pekerjaan akal serta memberi kepastian. Emanuel Kant menemukan
Logika Transendental yaitu logika yang menyelediki bentuk-bentuk pemikiran yang
mengatasi batas pengalaman. Selain itu George Boole (yang mengembangkan aljabar
Boolean), Bertrand Russel, dan G. Frege tercatat sebagai tokoh-tokoh yang
berjasa dalam mengembangkan Logika Modern.
Pada abad 9 hingga abad 15,
buku-buku Aristoteles seperti De Interpretatione, Eisagoge oleh Porphyus dan
karya Boethius masih digunakan. Thomas Aquinas 1224-1274 dan kawan-kawannya
berusaha mengadakan sistematisasi logika. Lahirlah logika modern dengan
tokoh-tokoh seperti:
• Petrus Hispanus 1210 – 1278)
• Roger Bacon 1214-1292
• Raymundus Lullus (1232 -1315) yang menemukan metode logika baru yang dinamakan Ars Magna, yang merupakan semacam aljabar pengertian.
• William Ocham (1295 – 1349)
• Roger Bacon 1214-1292
• Raymundus Lullus (1232 -1315) yang menemukan metode logika baru yang dinamakan Ars Magna, yang merupakan semacam aljabar pengertian.
• William Ocham (1295 – 1349)
Pengembangan dan penggunaan
logika Aristoteles secara murni diteruskan oleh Thomas Hobbes (1588 – 1679)
dengan karyanya Leviatan dan John Locke (1632-1704) dalam An Essay Concrning
Human Understanding. Francis Bacon (1561 – 1626) mengembangkan logika induktif
yang diperkenalkan dalam bukunya Novum Organum Scientiarum. J.S. Mills (1806 –
1873) melanjutkan logika yang menekankan pada pemikiran induksi dalam bukunya
System of Logic. Lalu logika diperkaya dengan hadirnya pelopor-pelopor logika
simbolik seperti:
• Gottfried Wilhelm Leibniz (1646-1716) menyusun
logika aljabar berdasarkan Ars Magna dari
Raymundus Lullus. Logika ini bertujuan menyederhanakan pekerjaan akal budi dan
lebih mempertajam kepastian.
• George Boole (1815-1864)
• John Venn (1834-1923)
• Gottlob Frege (1848 – 1925)
• George Boole (1815-1864)
• John Venn (1834-1923)
• Gottlob Frege (1848 – 1925)
Lalu Chares Sanders Peirce (1839-1914),
seorang filusuf Amerika Serikat yang pernah mengajar di John Hopkins
University,melengkapi logika simbolik dengan karya-karya tulisnya. Ia
memperkenalkan dalil Peirce (Peirce’s Law) yang menafsirkan logika selaku teori
umum mengenai tanda (general theory of signs). Puncak kejayaan logika simbolik
terjadi pada tahun 1910-1913 dengan terbitnya Principia Mathematica tiga jilid
yang merupakan karya bersama Alfred North Whitehead (1861 – 1914) dan Bertrand
Arthur William Russel (1872 – 1970)
C.
Macam – Macam Logika
Setelah mempelajari tentang filsafat ilmu lebih mendalam lagi, ternyata didalamnya terdapat banyak sekali materi yang disajikan. Yang salah satunya adalah tentang logika, dan logika sendiri dapat dibedakan menjadi dua yaitu :
Setelah mempelajari tentang filsafat ilmu lebih mendalam lagi, ternyata didalamnya terdapat banyak sekali materi yang disajikan. Yang salah satunya adalah tentang logika, dan logika sendiri dapat dibedakan menjadi dua yaitu :
1.
Logika Alamiah
Logika
Alamiah adalah kinerja akal budi manusia yang berpikir secara tepat dan lurus
sebelum mendapat pengaruh-pengaruh dari luar, yakni keinginan-keinginan dan
kecenderungan-kecenderungan yang subyektif. Yang mana logika alamiah manusia
ini ada sejak manusia dilahirkan. Dan dapat disimpulkan pula bahwa logika
alamiah ini sifatnya masih murni.
2.
Logika Ilmiah
Lain halnya
dengan logika alamiah, logika ilmiah ini menjadi ilmu khusus yang merumuskan
azas-azas yang harus ditepati dalam setiap pemikiran. Dengan adanya pertolongan
logika ilmiah inilah akal budi dapat bekerja dengan lebih tepat, lebih teliti,
lebih mudah dan lebih aman. Logika ilmiah ini juga dimaksudkan untuk
menghindarkan kesesatan atau setidaknya dapat dikurangi. Sasaran dari logika
ilmiah ini adalah untuk memperhalus dan mempertajam pikiran dan akal budi.
logika ilmiah ini terjadi melalui percobaan-percobaan, sehingga percobaan itu
melahirkan suatu ilmu dan pengetahuan yang baru contohnya seseorang memikirkan
kendaraan yang bisa berjalan di atas air maka terciptalah kapal laut yang bisa
menyebrang dan mengangkut muatan banyak baik manusia, hewan dan lain-lain. ini
sebagaimana tergambar dalam surat Yunus ayat 22 yang mana allah telah
memberikan gambaran bagaimana kapal yang berjalan diatas permukaan air yang
artinya ;
22. Dialah Tuhan yang
menjadikan kamu dapat berjalan di daratan, (berlayar) di lautan. sehingga
apabila kamu berada di dalam bahtera, dan meluncurlah bahtera itu membawa
orang-orang yang ada di dalamnya dengan tiupan angin yang baik, dan mereka
bergembira karenanya, datanglah angin badai, dan (apabila) gelombang dari
segenap penjuru menimpanya, dan mereka yakin bahwa mereka telah terkepung
(bahaya), Maka mereka berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan
kepada-Nya semata-mata. (mereka berkata): “Sesungguhnya jika Engkau
menyelamatkan Kami dari bahaya ini, pastilah Kami akan Termasuk orang-orang
yang bersyukur”.
D.
Logika Sebagai Cabang Filsafat
Filsafat
adalah kegiatan / hasil pemikiran /permenungan yang menyelidiki sekaligus
mendasari segala sesuatu yang berfokus pasa makna dibalik kenyataan atau teori
yang ada untuk disusun dalam sebuah system pengetahuan rasional. Logika adalah
sebuah cabang filsafat yang praktis. Praktis disini berarti logika dapat
dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari.Logika lahir bersama-sama dengan
lahirnya filsafat di Yunani. Dalam usaha untuk memasarkan pikiran-pikirannya
serta pendapat-pendapatnya, filsuf-filsuf Yunani kuno tidak jarang mencoba
membantah pikiran yang lain dengan menunjukkan kesesatan penalarannya.Logika
digunakan untuk melakukan pembuktian. Logika mengatakan yang bentuk inferensi
yang berlaku dan yang tidak. Secara tradisional, logika dipelajari sebagai
cabang filosofi, tetapi juga bisa dianggap sebagai cabang matematika.
Logika sebagai cabang
filsafat adalah cabang filsafat tentang berpikir. Logika membicarakan tentang
aturan-aturan berpikir agar dengan aturan-aturan tersebut dapat mengambil
kesimpulan yang benar. Dengan mengetahui cara atau aturan-aturan tersebut dapat
menghindarkan diri dari kesalahan dalam mengambil keputusan. Menurut Louis O.
Kattsoff, logika membicarakan teknik-teknik untuk memperoleh kesimpulan dari
suatu perangkat bahan tertentu dan kadang-kadang logika didefinisikan sebagai
ilmu pengetahuan tentang penarikan kesimpulan.
Logika bisa menjadi suatu
upaya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti : Adakah metode yang dapat
digunakan untuk meneliti kekeliruan pendapat? Apakah yang dimaksud pendapat
yang benar? Apa yang membedakan antara alasan yang benar dengan alasan yang
salah? Filsafat logika ini merupakan cabang yang timbul dari persoalan tentang
penyimpulan.
E. Kegunaan Logika
Logika membantu manusia berpikir lurus, efisien, tepat, dan teratur untuk mendapatkan kebenaran dan menghindari kekeliruan. Dalam segala aktivitas berpikir dan bertindak, manusia mendasarkan diri atas prinsip ini. Logika menyampaikan kepada berpikir benar, lepas dari berbagai prasangka emosi dan keyakinan seseoranng, karena itu ia mendidik manusia bersikap obyektif, tegas, dan berani, suatu sikap yang dibutuhkan dalam segala suasana dan tempat.
Selain hubungannya erat
dengan filsafat dan matematik, logika dewasa ini juga telah mengembangkan
berbagai metode logis (logical methods) yang banyak sekali pemakaiannya dalam
ilmu-ilmu, sebagai misal metode yang umumnya pertama dipakai oleh suatu ilmu.
Selain itu logika modern (terutama logika perlambang) dengan berbagai pengertian yang cermat, lambang yang abstrak dan aturan-aturan yang diformalkan untuk keperluan penalaran yang betul tidak saja dapat menangani perbincangan-perbincangan yang rumit dalam suatu bidang ilmu, melainkan ternyata juga mempunyai penerapan. Misalnya dalam penyusunan program komputer dan pengaturan arus listrik, yang tidak bersangkutan dengan argumen.
Selain itu logika modern (terutama logika perlambang) dengan berbagai pengertian yang cermat, lambang yang abstrak dan aturan-aturan yang diformalkan untuk keperluan penalaran yang betul tidak saja dapat menangani perbincangan-perbincangan yang rumit dalam suatu bidang ilmu, melainkan ternyata juga mempunyai penerapan. Misalnya dalam penyusunan program komputer dan pengaturan arus listrik, yang tidak bersangkutan dengan argumen.
Pengertian ilmu logika secara
umum adalah ilmu yang mempelajari aturan-aturan berpikir benar. Jadi dalam
logika kita mempelajari bagaimana sistematika atau aturan-aturan berpikir
benar. Subjek inti ilmu logika adalah definisi dan argumentasi. Yang
selanjutnya dikembangkan dalam bentuk silogisme.
Dari uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa kegunaan
logika adalah sebagai berikut:
1. Membantu setiap orang mempelajari logika untuk berpikir secara rasional, kritis, lurus, tetap, tertib, metodis, dan koheren atau untuk menjaga kita supaya selalu berpikir benar.
2. Meningkatkan kemampuan berpikir secara abstrak, cermat, dan objektif.
3. Menambah kecerdasan dan meningkatkan kemampuan berpikir secara tajam dan mandiri.
4. Memaksa dan mendorong orang untuk berpikir sendiri dengan menggunakan asas-asas sistematis.
5. Meningkatkan cinta akan kebenaran dan menghindari kesalahan-kesalahan berpikir kekeliruan serta kesesatan.
6. Mampu melakukan analisis terhadap suatu kejadian.
7. Sebagai ilmu alat dalam mempelajari ilmu apapun, termasuk filsafat.
1. Membantu setiap orang mempelajari logika untuk berpikir secara rasional, kritis, lurus, tetap, tertib, metodis, dan koheren atau untuk menjaga kita supaya selalu berpikir benar.
2. Meningkatkan kemampuan berpikir secara abstrak, cermat, dan objektif.
3. Menambah kecerdasan dan meningkatkan kemampuan berpikir secara tajam dan mandiri.
4. Memaksa dan mendorong orang untuk berpikir sendiri dengan menggunakan asas-asas sistematis.
5. Meningkatkan cinta akan kebenaran dan menghindari kesalahan-kesalahan berpikir kekeliruan serta kesesatan.
6. Mampu melakukan analisis terhadap suatu kejadian.
7. Sebagai ilmu alat dalam mempelajari ilmu apapun, termasuk filsafat.
Karena yang dipelajari dalam
ilmu logika hanyalah berupa aturan-aturan berpikir benar maka tidak otomatis
seseorang yang belajar logika akan menjadi orang yang selalu benar dalam
berpikir. Itu semua tergantung seperti apa dia menerapkan aturan-aturan berpikir
itu, disiplin atau tidak dalam menggunakan aturan-aturan itu, sering berlatih,
dan tentu saja punya tekad dalam kebenaran. Kegunaan dari kita belajar logika
adalah daya analisis kita semakin bertambah dan dimana apabila ada suatu
masalah, kita dapat mengambil keputusan dengan benar. Disamping itu belajar
logika juga sangat bermanfaat dalam manajemen waktu, dan juga logika merupakan
dasar ilmu psikologi yang paling mendasar. Intinya dengan belajar logika
kemampuan berpikir dan daya analisis kita semakin berkembang.
F.
Dasar-dasar
Logika
Konsep bentuk logis adalah inti dari logika. Konsep itu menyatakan bahwa kesahihan (validitas) sebuah argumen ditentukan oleh bentuk logisnya, bukan oleh isinya. Dalam hal ini logika menjadi alat untuk menganalisis argumen, yakni hubungan antara kesimpulan dan bukti atau bukti-bukti yang diberikan (premis). Logika silogistik tradisional Aristoteles dan logika simbolik modern adalah contoh-contoh dari logika formal.
Konsep bentuk logis adalah inti dari logika. Konsep itu menyatakan bahwa kesahihan (validitas) sebuah argumen ditentukan oleh bentuk logisnya, bukan oleh isinya. Dalam hal ini logika menjadi alat untuk menganalisis argumen, yakni hubungan antara kesimpulan dan bukti atau bukti-bukti yang diberikan (premis). Logika silogistik tradisional Aristoteles dan logika simbolik modern adalah contoh-contoh dari logika formal.
Dasar penalaran dalam logika
ada dua, yakni deduktif dan induktif. Penalaran deduktif—kadang disebut logika
deduktif—adalah penalaran yang membangun atau mengevaluasi argumen deduktif.
Argumen dinyatakan deduktif jika kebenaran dari kesimpulan ditarik atau
merupakan konsekuensi logis dari premis-premisnya. Argumen deduktif dinyatakan
valid atau tidak valid, bukan benar atau salah. Sebuah argumen deduktif
dinyatakan valid jika dan hanya jika kesimpulannya merupakan konsekuensi logis
dari premis-premisnya.
Contoh argumen deduktif:
1. Setiap mamalia punya sebuah jantung
2. Semua kuda adalah mamalia
3. Setiap kuda punya sebuah jantung
Penalaran induktif—kadang disebut logika induktif—adalah penalaran yang berangkat dari serangkaian fakta-fakta khusus untuk mencapai kesimpulan umum.
1. Setiap mamalia punya sebuah jantung
2. Semua kuda adalah mamalia
3. Setiap kuda punya sebuah jantung
Penalaran induktif—kadang disebut logika induktif—adalah penalaran yang berangkat dari serangkaian fakta-fakta khusus untuk mencapai kesimpulan umum.
Contoh argumen induktif:
1. Kuda Sumba punya sebuah jantung
2. Kuda Australia punya sebuah jantung
3. Kuda Amerika punya sebuah jantung
4. Kuda Inggris punya sebuah jantung
5. …
6. ? Setiap kuda punya sebuah jantung
1. Kuda Sumba punya sebuah jantung
2. Kuda Australia punya sebuah jantung
3. Kuda Amerika punya sebuah jantung
4. Kuda Inggris punya sebuah jantung
5. …
6. ? Setiap kuda punya sebuah jantung
Deduktif Induktif
Jika semua premis benar maka kesimpulan pasti benar Jika premis benar, kesimpulan mungkin benar, tapi tak pasti benar.
Semua informasi atau fakta pada kesimpulan sudah ada, sekurangnya secara implisit, dalam premis. Kesimpulan memuat informasi yang tak ada, bahkan secara implisit, dalam premis.
Jika semua premis benar maka kesimpulan pasti benar Jika premis benar, kesimpulan mungkin benar, tapi tak pasti benar.
Semua informasi atau fakta pada kesimpulan sudah ada, sekurangnya secara implisit, dalam premis. Kesimpulan memuat informasi yang tak ada, bahkan secara implisit, dalam premis.
G. Logika sebagai Esensi dari Filsafat
Permasalahan yang selama ini dihadapi oleh pada filusuf menurut Russell adalah karena para filusuf terkadang terlalu berlebihan dan selalu berusaha untukNmencapai sesuatu yang terbaik. Walaupun keadaan ini tidak mungkin bisa dicapai karena para filusuf yang ada selama ini kurang tepat melihat permasalahan filsafat dan metode-metode yang digunakan untuk memecahkan permasalahan filsafat.
Menurut Russell permasalahan-permasalahan filsafat dan metode-metode filsafat selama ini tidak mudah untuk dipahami atau dirumuskan oleh sekolah-sekolah yang ada, banyak permasalahan-permasalahan tradisionalyang belum dapat dipecahkan oleh pengetahuan yang sekarang ada. Bahkan ada beberapa permasalahan yang sudah mulai di tinggalkan namun sebenarnya masih bisa dipecahkan melalui metode-metode yang tepat dengan tingkat pengetahuan yang lebih maju.
Dalam merumuskan permasalahan
ini, Russell menoba membaginya ke dalam 3 tipe besar yaitu tipe pertama disebut
sebagai tipe tradisional klasik yang diwakili oleh pemikiran Kant dan Hegel,
periode ini menekankan pada kecenderungan untuk mengadopsi pemecahan
permasalahan yang terjadi sekarang dengan metode-metode dan hasil-hasil yang
telah dicapai pada masa Plato dan lainnya. Tipe kedua adalah Evolusionisme, yang
dimulai dari pemikiran Darwin hingga Herbert Spencer. Namun pada perkembangan
selanjutnya didominasi oleh pemikiran William James dan M Bergson. Dan Tipe
Ketiga adalah yang disebut Logika Atomisme, yang melihat filsafat melalui
metode kritis matematika.
Pada tipe Tradisional Klasik
perhatian utamanya adalah para filusuf Yunani yang menekankan pada rasio
sebagai perhatian utamanya. Metode deduksi apriori digunakan dalam tipe ini
untuk mengkaji fenomena yang ada. semua realita adalah suatu kesatuan dan tidak
ada perubahan. Sense yang ada dalam dunia merupakan ilusi. Keganjilan dari
hasil yang diperoleh oleh para filusuf tidak membuat mereka merasa cemas karena
bagi mereka rasio merupakan satu-satunya keabsahan yang sahih.Ketika para
filusuf yang mereka jadikan acuan meninggal, maka ajaran mereka terus
dipertahankan dengan menggunakan kekuasaan, tradisi, kekuatan hukum dan juga
kekuatan yang selama ini masih ada yaitu otoritas agama .
Di Inggris, rasio apriori ini
digunakan untuk mengungkapkan rahasia tentang dunia dan dapat membuktikan
kenyataan seperti apa yang di tampakkan. Logika dalam tipe Tradisional Klasik
ini di konstruksikan melalui proses negasi. Logika dibuat untuk mengutuk mereka
semua untuk menerima fenomena dan fenomena diungkapkan untuk sadar akan
dunianya. Dunia dibentuk oleh logika dengan sedikit peran dari pengalaman.
Dunia, menurut tipe ini,
merupakan ”organic unity”, dimana bagian-bagiannya yang berbeda bergabung
menjadi satu dan bekerja sama karena mereka sadar bahwa mereka berada dalam
satu tempat yang sama sebagai satu kesatuan. Intinya tipe ini merupakan
penggabungan antara pemikiran Yunani yang menekankan pada rasio dan abad
pertengahan yang menkankan pada kesempurnaan alam semesta.
Pada tipe Evolusionisme,
percaya pada dirinya yang mendasarkan pada ilmu pengetahuan, Sebuah pembebasan
dari harapan-harapan, memberikan inspirasi dalam menghidupkan kembali kekuatan
manusia. Evolusionisme ini bukan ilmu pengetahuan yang sesungguhnya, dan juga
bukan metode untuk memecahkan masalah. Filsafat ilmiah yang sesungguhnya adalah
suatu yang lebih kuat sekaligus lebih longgar, menguak harapan-harapan tentang
keduaniaan dan membutuhkan beberapa disiplin supaya berhasil dalam
mempraktekkannya.
Logika, matematika, fisika
hilang dalam tipe ini disebabkan karena mereka terlalu statis. Apa yang nyata
adalah sesuatu yang mendesak dan bergerak menuju pada satu tujuan. Terdapat 2
kritik terhadap hal ini, diantaranya, pertama, kebenaran tidak mengikuti apa
yang telah dihasilkan ilmu pengetahuan yang selalu memperhatikan fakta yang
mengalami evolusi. Kedua, motif dan kepentingan di inspirasikan oleh
praktek-praktek eklusif. Hal yang paling penting dalam tipe Evolusionisme
adalah pertanyaan tentang tujuan manusia atau setidaknya tentang tujuan hidup
manusia. Evolusionisme lebih tertarik pada moralitas dan kebahagiaan dari pada
pemngetahuan semata.
Pada awalnya Russell sudah
mulai menampakkan penyerangan pada idealismedengan memihak pada akal sehat
(common sense) dan Ia lebih menekankan pada analisis logis. Namun setelah buku
ini dikeluarkan maka Russell sudah mulai beralih dari common sense ke pada ilmu
pengetahuan, maksudnya adalah dalam berfilsafat atau dalam memecahkan
permasalahan filsafat harus mengacu pada ilmu pengetahuan yang ketat dan
kritis.
Tipe Logika Atomisme ini
mempunyai tujuan untuk mengupas habis struktur hakiki bahasa dan dunia. Tujuan
ini dicapai melalui jalan analisis. Menurut Russell filsafat bertugas
menganalisa fakta-fakta. Filsafat harus melukiskan jenis-jenis fakta yang ada.
Bagi Russell fakta-fakta tidak dapat bersifat benar dan salah yang mengandung
dan bisa dikatakan benar dan salah adalah proposisi-proposisi yang
mengungkapkan fakta-fakta. Atau dengan kata lainproposisi-proposisi merupakan
simbol dan tidak merupakan sebagian dunia. Dimana suatu proposisi terdiri dari
kata-kata, yang menunjukkan kepada data inderawi (sense-data) dan universalia
(universalis), yaitu ciri-ciri atau relasi-relasi.
Ada yang disebut proposisi
atomis, dimana proposisi ini sama sekali tidak mengandung unsur-unsur majemuk.
Suatu proposisi atomis mengungkapkan suatu fakta atomis. Dengan demikian
Russell menyimpulkan bahwa bahasa sepadan dengan dunia. Dengan kata lain
melalui bahassa kita dapat menemukan fakta-fakta jenis mana yang ada. Menurur
Russell bahasa menggambarkan realitas. Namun bahasa yang Ia maksud adalah
bahasa sempurna, yang terlepad dari kedwiartian dan kekaburan, yaitu bahasa
logis yang dirumuskan dalam principia mathematica.
Dengan proposisi-proposisi
atomis kita dapat membentuk suatu proposisi majemuk, misalnya dengan
menggunakan proposisi-proposisi atomis kita dapat membentuk suatu proposisi
majemuk, misalnya dengan menggunakan kata ”dan” atau ”atau”. Yang dihasilkan
adalah suatu proposisi molekuler (molecular proposition). Tetapi tidak ada
fakta molekuler yang hanya menunjuk pada fakta-fakta atomis.
Kebenaran atau ketidak
benaran suatu proposisi molekuler tergantung pada kebenaran atau ketidakbenaran
proposisi-proposisi atomis yang terdapat di dalamnya. Jadi fakta-fakta yang
atomis menentukan benar tidaknya proposisi apa pun juga. Atau perkataan Russell
adalah ”molecular proposition are truth-function’s of propositions. Russell
sadar bahwa dalam argumennya ini juga ada beberapa kelemahan yang masih dapat
dihindari, hal ini ditunjukkan bahwa bagi Russell masih ada fakta umum. Seperti
pernyataan-pernyataan umum yang tidak harus dibentuk oleh proposisi atomis
seperti semua orang akan mati, dari proposisi ini pernyataan ini benar karena
bukan terdiri dari serangkaian fakta-fakta atomis tetapi proposisi ini benar
karena adanya fakta umum yang berlaku benar.
Hal kedua Russell juga
mengakui adanya fakta-fakta negatif., karena itulah satu-satunya cara untuk
menerangkan kebenaran dan ketidakbenaran proposisi-proposisi negatif. Dan
terakhir Russell harus mengakui adanya fakta-fakta khusus yang lebih mengacu
pada suatu kepercayaan atau suatu fakta psikis (mental fact) H. Kritik-kritik
terhadap Teori Atomisme Logis Memang tidak dapat dipungkiri bahwa atomisme
logis mengandung suatu metafisika, alasannya adalah teori ini mau menjelaskan
struktur hakiki dari bahasa dan dunia, atau dengan kata lain teori ini
menjelaskan bagaimana akhirnya halnya dengan realitas seluruhnya.
Dunia dapat diasalkan kepada
fakta-fakta atomis, jelas sekali merupkana suatu pendapat metafisis. Metafisika
yang terdapat dalam teori Russell merupakan suatu pluralisme radikal, sama
sekali bertentangan dengan monisme yang menandai idealisme, khususnya idealisme
Bradley .Atomisme logis menggunakan suatu kriterium untuk menentukan makna.
Suatu proposisi mengandung makna kalau dapat ditunjukkan suatu fakta atomis
yang sepadan dengannya atau kalau suatu proposisi majemuk terdiri dari
proposisi-proposisi atomis yang masing-masing sepadan dengan suatu fakta
atomis. Akan tetapi proposisi yang dinyatakan oleh atomisme logis tidak dapat
disamakan dengan kedua jenis proposisi ini.Tidak ada fakta atomis yang membuat
proposisi-proposisi yang membentuk teori proposisi atomisme logis itu menjadi
benar atau tidak benar. Akibatnya perlu disimpulkan bahwa proposisi-proposisi
atomisme logis sendiri tidak bermakna. Dan Russell sendiri tidak memberikan
penyelesaiannya karena Ia telah beralih kepada pembahasan yang lain.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari penjelasan-penjelasan di atas dapat kita simpulkan bahwa logika berasal dari bahasa latin yaitu dari kata logos berarti perkataan atau sabda. Secara umum logika adalah ilmu yang mempelajari metode dan hukum hukum yang digunakan untuk membedakan penalaran yang betul dari penalaran yang salah. Logika ini dimulai dari tahun 624 SM sampai 548 SM oleh Thales yang disebut sebagai Bapak Filsafat kemudian dikembangkan kembali oleh Aristoteles dengan mengenalkan logika sebagai ilmu. Logika terbagi menjadi dua macam yaitu : logika alamiah dan logika ilmiah. Dalam perkembangannya logika juga disebut sebagai cabang filsafat. Logika sangat berguna bagi kehidupan manusia untuk berpikir lurus, efisien, tepat dan teratur demi mendapatkan kebenaran dan menghindari kekeliruan.
Mengenai pendapat Russell
tentang tipe Tradisional Klasik memang ada benarnya karena pada tipe ini mereka
lebih menekankan pada pemikiran-pemikiran yang sudah lama adanya, dan belum
tentu tepat dan dapat menentukan benar atau salah suatu fakta. Dengan kata lain
pendekatan filsafat yang sudah usang belum tentu tepat untuk diterapkan pada
masa tertentu, terkadang apa yang ditawarkan oleh filusuf-filisuf terdahulu
haya dapat berlaku pada jamannya.
Memang logika pada saat ini
sudah digunakan, karena Aristoteles sudah memulainya, namun logika disini
digunakan hanya untuk mengkonstruksi fakta melalui negasi saja. Atau dengan
kata lain dunia dibentuk melalui pernyataan saja tanpa memperhatikan pengalaman
yang kongkrit.Pada dasarnya pendekatan yang ditawarkan oleh Russell adalah
pendekatan logika yang atomis, dimana pendekatan ini lebih mengandalkan
pendekatan yang sangat matematis. Disatu sisi pendekatan yang dilihat dari
sudut matematis lebih sistematis. Biasanya filsafat dan permasalahannya jika
dikaji dengan menggunakan pendekatan yang secara sistematis umumnya lebih
sistematis, alur berfikir sangat runtut.
Namun kelemahannya ada
beberapa permasalahan filsafat yang tidak dapat didekati dengan pendekatan yang
bersifat matematis seperti metafisis, atau mengenai ontologi. Maka kebanyakan
para filusuf yang menekankan kajian filsafatnya dengan metode logika, mereka
tidak terlalu ambil pusing dengan metefisis atau segala hal yang berbau dengan
idealisme. Sesuatu itu harus dapat dipertanggungjawabkan dengan
proposisi-proposisi yang tepat dan benar. Sehingga fakta-fakta yang hadir dapat
diwakilkan dengan proposisi-proposisi yang benar dan sahih. Sayangnya Russell
kurang membahas lebih lanjut berkenaan dengan kekurangan teorinya.
B. Saran
Logika sebagai cabang dalam filsafat ilmu menuntun kita untuk berpikir benar dan tidak salah dalam mengambil keputusan. Selain itu berpikir secara logika mampu kita untuk berpikir secara lurus, efisien, tepat dan teratur demi mendapatkan kebenaran dan menghindari kekeliruan dalam pemecahan suatu masalah. Oleh karena itu para pembaca seyogyangya untuk memperdalam pembahaan tentang logika ini.
DAFTAR PUSTAKA
- Bakhtiar, Amsal. 2004. “Filsafat Ilmu”. Jakarta: Raja Grafindo Persada
- Bakry, Hasbullah.1992. Sistematik Filsafat. Cet. IX; Jakarta: Penerbit Wijaya
- Gie, The Liang. 2007. Pengantar Filsafat Ilmu. Liberty, Yogyakarta
- Mustofa.A. 2007 Fislasar islam. Bandung : pustaka setia
- Mundiri, H. 2008. Logika. Raja Grafindo Persada, Jakarta.
- Poespoprodjo, W. 1999 Logika Scientifika: Pengantar Dialektika dan Ilmu. Cet. I; Bandung: Pustaka Grafika,
Wynn Hotel & Casino - TripAdvisor
BalasHapusWynn Hotel & Casino: See 1 traveler review, 4 candid 의왕 출장마사지 photos, and great deals for Wynn 논산 출장마사지 Las 창원 출장샵 Vegas at Tripadvisor. Rating: 4 · 1,181 reviews · Price range: $$ (Based on Average Nightly Rates for 창원 출장마사지 a 광주광역 출장마사지 Standard Room from our Partners)